Beruang Madu Lubuk Linggau Belum Masuk Perangkap BKSDA

RIGHTBUSSINESSBeruang madu Lubuk Linggau yang berkeliaran di kawasan Kelurahan Lubuk Binjai hingga Selasa, 8 September 2026 masih belum berhasil dievakuasi. Perangkap besi yang dipasang Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Sumsel bersama pemerintah setempat juga belum menunjukkan hasil.

Perangkap tersebut dipasang di lokasi yang diduga menjadi jalur satwa liar itu. Pemasangan dilakukan setelah warga kembali melaporkan kemunculan beruang di sekitar kebun dan permukiman.

Perangkap Dipasang Sejak Sabtu

Lurah Lubuk Binjai Mustaqim mengatakan, petugas BKSDA datang ke lokasi pada Sabtu, 5 September 2026.

Saat itu, pihak kelurahan ikut mendampingi petugas untuk mencari titik yang biasa dilewati beruang. Setelah lokasi ditentukan, perangkap besi langsung dipasang di jalur tersebut.

Menurut Mustaqim, perangkap akan terus dipantau selama 30 hari. Pengawasan dilakukan bersama oleh warga dan pihak kelurahan.

Umpan Nangka Diganti Secara Berkala

Sementara itu, BKSDA menggunakan buah nangka sebagai umpan untuk menarik beruang masuk ke dalam perangkap.

Umpan tersebut harus diganti apabila sudah habis atau kondisinya mulai busuk. Namun hingga 8 September 2026, perangkap masih kosong dan belum terlihat tanda-tanda beruang masuk.

Meski begitu, warga kembali melihat seekor anak beruang di sekitar lokasi yang sama.

Mustaqim menyebut ukuran anak beruang itu masih kecil. Berdasarkan ciri yang terlihat, warga menduga satwa tersebut merupakan beruang madu seperti yang sebelumnya dilaporkan.

Warga Masih Takut ke Kebun

Keberadaan satwa liar tersebut membuat sebagian warga Lubuk Binjai masih merasa khawatir untuk beraktivitas di kebun, terutama menjelang sore.

Ketua RT 05 Ramon mengatakan beruang masih terlihat berkeliaran di kawasan tersebut. Sebelumnya, warga juga sempat mencoba memasang perangkap sendiri, tetapi upaya itu belum berhasil.

Di sisi lain, sejauh ini belum ada laporan baru mengenai kebun atau ternak warga yang mengalami kerusakan akibat keberadaan beruang.

Meski begitu, warga tetap waspada. Kekhawatiran utama mereka adalah kemungkinan beruang tiba-tiba mendekati atau menyerang warga yang sedang berada di kebun.

BKSDA Pastikan Satwa Merupakan Beruang Madu

Kasi Konservasi Wilayah II BKSDA Sumsel Yusmono membenarkan bahwa petugas sudah datang dan melakukan pengecekan langsung di lokasi.

Petugas juga telah memasang perangkap dan akan terus melakukan pemantauan terhadap keberadaan satwa tersebut.

Sebelumnya, kemunculan beruang madu di Lubuk Binjai pertama kali dilaporkan warga pada Rabu, 2 September 2026 sekitar pukul 16.00 WIB.

Saat itu, satwa tersebut dilaporkan keluar dari kawasan hutan dan mendekati permukiman warga.

BKSDA Pantau Perangkap Selama Sebulan

Pemantauan perangkap direncanakan berlangsung selama satu bulan. Selama periode tersebut, umpan nangka akan diperhatikan dan diganti apabila sudah habis atau tidak lagi layak digunakan.

Jika selama satu bulan tidak ditemukan tanda-tanda keberadaan beruang di sekitar perangkap, ada kemungkinan satwa tersebut sudah kembali ke kawasan hutan.

Hingga pemantauan pada 8 September 2026, belum ada beruang yang berhasil masuk ke perangkap.

Diduga Turun ke Kebun karena Kondisi Hutan

Kemunculan beruang madu tersebut diduga berkaitan dengan kondisi lingkungan di kawasan hutan.

Cuaca yang sangat panas, musim kemarau, serta dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla) diduga membuat ketersediaan makanan dan air di habitatnya berkurang.

Kondisi itu diduga menjadi salah satu alasan satwa tersebut turun dan mencari sumber makanan maupun air hingga mendekati kebun serta permukiman warga.

Untuk saat ini, warga bersama pemerintah setempat dan BKSDA masih memantau pergerakan satwa tersebut sambil menunggu hasil dari perangkap yang telah dipasang.

Scroll to Top