Ketika anemia menimbulkan gejala, beberapa keluhan yang dapat muncul antara lain:
- mudah lelah;
- tubuh terasa lemah;
- pusing atau kepala terasa ringan;
- sakit kepala;
- kulit terlihat lebih pucat;
- sesak napas;
- jantung berdebar atau denyut terasa tidak teratur;
- tangan atau kaki terasa dingin pada kondisi tertentu.
Keluhan tersebut tidak otomatis berarti seseorang mengalami anemia. Banyak kondisi kesehatan lain yang juga dapat menyebabkan rasa lelah, pusing, atau sesak napas. Karena itu, gejala sebaiknya tidak digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menentukan diagnosis.
Bagaimana Anemia Diketahui?
Untuk mengetahui apakah seseorang mengalami anemia, dokter biasanya mempertimbangkan keluhan, riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik, dan hasil pemeriksaan laboratorium.
Salah satu pemeriksaan yang umum digunakan adalah complete blood count (CBC) atau pemeriksaan darah lengkap. Pemeriksaan ini dapat memberikan informasi mengenai sel darah merah, hemoglobin, hematokrit, sel darah putih, dan trombosit.
Beberapa parameter yang dapat diperhatikan antara lain:
Hemoglobin
Hemoglobin merupakan protein dalam sel darah merah yang membawa oksigen. Kadar hemoglobin menjadi salah satu parameter penting dalam evaluasi anemia.
Hematokrit
Hematokrit menunjukkan persentase volume darah yang terdiri dari sel darah merah. Nilainya dapat membantu dokter menilai kondisi darah bersama parameter lainnya.
MCV
Mean corpuscular volume atau MCV menunjukkan ukuran rata-rata sel darah merah. Nilai MCV yang terlalu rendah atau tinggi dapat membantu dokter mengarahkan pemeriksaan terhadap kemungkinan jenis anemia tertentu.
Jika diperlukan, dokter dapat meminta pemeriksaan tambahan seperti kadar zat besi, ferritin, vitamin B12, atau pemeriksaan lain untuk mencari penyebab anemia.
Apakah Semua Anemia Harus Diobati dengan Zat Besi?
Tidak. Ini merupakan hal penting yang sering disalahpahami.
Zat besi memang dapat digunakan untuk menangani anemia akibat kekurangan zat besi, tetapi tidak semua anemia disebabkan oleh kekurangan zat besi. Pemberian suplemen zat besi tanpa mengetahui penyebabnya tidak selalu tepat. NHLBI menyatakan bahwa suplemen zat besi umumnya tidak diberikan kepada orang yang tidak mengalami anemia defisiensi besi karena kelebihan zat besi dapat membahayakan organ.
Karena itu, pendekatan terhadap anemia sebaiknya mengikuti penyebabnya. Anemia yang berkaitan dengan kekurangan vitamin, penyakit kronis, perdarahan, gangguan sumsum tulang, atau kelainan darah membutuhkan evaluasi yang berbeda.
Kapan Sebaiknya Memeriksakan Diri?
Pemeriksaan medis layak dipertimbangkan ketika keluhan seperti lelah berkepanjangan, pusing berulang, sesak napas, atau jantung berdebar muncul tanpa penyebab yang jelas atau mengganggu aktivitas sehari-hari.
Pemeriksaan juga penting jika terdapat kondisi yang dapat meningkatkan risiko kehilangan darah atau anemia, misalnya menstruasi yang sangat berat atau riwayat penyakit tertentu.
Yang perlu diingat, anemia terkadang merupakan tanda dari masalah kesehatan lain. Karena itu, menemukan penyebab anemia sama pentingnya dengan mengetahui bahwa kadar hemoglobin atau sel darah merah berada di bawah nilai yang diharapkan.
Kesimpulan
Jadi, apa itu anemia? Anemia adalah kondisi ketika jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin berada di bawah normal sehingga kemampuan darah membawa oksigen ke jaringan tubuh dapat berkurang. Kondisi ini memiliki banyak jenis dan penyebab, sehingga tidak tepat jika anemia selalu dianggap sebagai akibat kekurangan zat besi.
Secara umum, anemia dapat terjadi karena tubuh tidak menghasilkan cukup sel darah merah, kehilangan darah, atau menghancurkan sel darah merah terlalu cepat. Jenisnya pun beragam, mulai dari anemia defisiensi besi dan kekurangan vitamin hingga anemia hemolitik dan aplastik.
Data WHO menunjukkan bahwa anemia masih menjadi masalah kesehatan global dengan prevalensi yang tinggi pada perempuan usia reproduktif, ibu hamil, dan anak-anak. Pada 2023, sekitar 30,7% perempuan usia 15–49 tahun mengalami anemia secara global.