Namun, ada sejumlah kebiasaan sehat yang dapat membantu mengurangi risiko.
1. Terapkan pola makan seimbang
Tidak perlu langsung melakukan diet ekstrem. Fokuslah pada pola makan beragam dengan porsi yang sesuai, cukup sayur dan buah, serta sumber protein yang bervariasi.
2. Hindari kebiasaan makan berlebihan
Makan dalam jumlah sangat banyak dalam satu waktu dapat menjadi salah satu pemicu serangan pada orang yang rentan. Pola makan teratur lebih baik dibandingkan pola makan yang ekstrem.
3. Cukupi kebutuhan cairan
Menjaga tubuh tetap terhidrasi dapat membantu fungsi tubuh berjalan dengan baik. Jika seseorang mempunyai pembatasan cairan karena kondisi medis, jumlah cairan sebaiknya mengikuti anjuran dokter.
4. Tetap aktif secara fisik
Aktivitas fisik teratur mendukung kesehatan secara keseluruhan dan membantu mengendalikan sejumlah faktor risiko metabolik. Aktivitas sebaiknya dilakukan secara bertahap dan sesuai kemampuan tubuh.
5. Jangan melakukan diet ekstrem
Penurunan berat badan yang terlalu cepat atau pola makan yang sangat ketat bukan pilihan yang baik. NHS juga menyarankan menghindari crash diet pada orang yang memiliki risiko gout.
Kapan Harus Memeriksakan Diri?
Nyeri sendi yang muncul tiba-tiba, terutama jika disertai bengkak, kemerahan, rasa panas, dan nyeri berat, sebaiknya tidak langsung dianggap sebagai asam urat. Kondisi lain juga dapat menyebabkan gejala serupa.
Baca Juga :Â Makanan Pantangan Asam Urat: Daftar yang Perlu Dibatasi dan Pilihan yang Lebih Aman
NHS menyarankan pemeriksaan medis ketika seseorang mengalami gejala gout untuk pertama kalinya.
Diagnosis yang tepat penting karena penanganan akan bergantung pada penyebabnya. Dalam kondisi tertentu, pemeriksaan cairan sendi dapat digunakan untuk menemukan kristal monosodium urat dan membantu memastikan diagnosis.
Kesimpulan
Penyebab asam urat tidak sesederhana anggapan bahwa penyakit ini hanya disebabkan oleh makanan tertentu. Kadar asam urat dipengaruhi oleh keseimbangan produksi dan pembuangannya dari tubuh. Faktor makanan tinggi purin, minuman dan makanan tinggi gula, fungsi ginjal, berat badan, kondisi metabolik, faktor keturunan, obat-obatan tertentu, alkohol, serta dehidrasi dapat berperan dalam meningkatkan risiko.
Karena faktor penyebabnya beragam, pendekatan terbaik bukan sekadar menghindari satu atau dua jenis makanan. Menjaga pola makan seimbang, cukup cairan, aktif bergerak, mengelola kondisi kesehatan yang ada, dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan jika muncul gejala merupakan langkah yang lebih menyeluruh.