RIGHTBUSSINESS – Kardio dan latihan beban sebenarnya tidak perlu dipisahkan secara ekstrem. Keduanya bisa saling melengkapi jika disusun dalam jadwal yang realistis. Kardio membantu melatih kebugaran jantung dan pernapasan, sedangkan latihan beban mendukung kekuatan otot dan kemampuan tubuh melakukan aktivitas sehari-hari. Tantangannya adalah menentukan kapan harus melakukan masing-masing latihan agar tubuh tetap punya waktu untuk beradaptasi dan pulih.
Mengapa Jadwal Kardio dan Latihan Beban Perlu Diatur?
Banyak orang mulai olahraga dengan semangat tinggi. Hari ini kardio, besok latihan beban, kemudian ingin menambah latihan lagi karena merasa semakin banyak olahraga berarti semakin baik. Padahal, tubuh juga membutuhkan waktu pemulihan.
Jadwal yang teratur membuat latihan lebih mudah dijalankan tanpa harus memaksakan diri. Sebagai gambaran sederhana, rutinitas mingguan dapat dibagi sekitar 40% untuk kardio, 40% untuk latihan kekuatan, dan 20% untuk pemulihan atau aktivitas ringan. Pembagian tersebut bukan aturan medis, melainkan contoh komposisi agar latihan memiliki variasi.
Untuk pemula, yang lebih penting bukan mengejar persentase tertentu, tetapi membangun kebiasaan secara bertahap.
Perbedaan Kardio dan Latihan Beban
Sebelum membuat jadwal, penting memahami fungsi dasar kedua jenis latihan ini.
Kardio
Kardio adalah aktivitas yang membuat tubuh bergerak secara berkelanjutan dan meningkatkan kerja jantung serta pernapasan.
Contohnya:
- Jalan cepat.
- Bersepeda.
- Jogging ringan.
- Berenang.
- Menari.
- Naik turun tangga.
Kardio dapat dilakukan dengan intensitas berbeda. Pemula tidak harus langsung melakukan latihan dengan intensitas tinggi. Aktivitas dengan intensitas sedang dapat menjadi pilihan untuk membangun kebiasaan.
Latihan Beban
Latihan beban bertujuan melatih kekuatan otot. Beban tidak selalu berarti menggunakan barbell atau dumbbell. Gerakan menggunakan berat badan sendiri juga termasuk latihan kekuatan.
Beberapa contohnya adalah:
- Squat.
- Wall push-up.
- Push-up sesuai kemampuan.
- Lunges.
- Glute bridge.
- Latihan dengan resistance band.
- Latihan menggunakan dumbbell ringan.
Untuk pemula, teknik gerakan lebih penting daripada menggunakan beban yang berat.
Jadwal Kardio dan Latihan Beban untuk Pemula
Jadwal tidak harus rumit. Salah satu contoh yang cukup sederhana adalah latihan selama 4 hari dalam seminggu, dengan tiga hari lainnya digunakan untuk istirahat atau aktivitas ringan.
Contoh Jadwal Mingguan
Senin – Latihan Beban
Fokus pada latihan kekuatan dasar dengan gerakan yang mudah dikontrol. Sesi dapat dibuat sekitar 30–45 menit sesuai kemampuan.
Selasa – Kardio
Pilih aktivitas seperti jalan cepat, bersepeda santai, atau aktivitas aerobik lainnya selama sekitar 20–30 menit.
Rabu – Pemulihan
Tidak harus diam sepanjang hari. Aktivitas ringan seperti berjalan santai dan peregangan dapat dilakukan.
Kamis – Latihan Beban
Lakukan latihan kekuatan dengan variasi gerakan yang berbeda atau ulangi latihan dasar dengan intensitas yang sesuai.
Jumat – Istirahat
Berikan kesempatan tubuh untuk pulih.
Sabtu – Kardio
Lakukan kardio dengan intensitas yang nyaman. Durasi dapat disesuaikan dengan kemampuan dan pengalaman.
Minggu – Istirahat atau Aktivitas Ringan
Gunakan hari ini untuk pemulihan sebelum memasuki minggu berikutnya.
Dengan pola tersebut, sekitar 50% hari dalam seminggu digunakan untuk latihan terstruktur, sementara 50% lainnya digunakan untuk pemulihan atau aktivitas ringan. Komposisi ini cukup sederhana untuk dijadikan contoh awal, bukan jadwal wajib untuk semua orang.
Cara Mengatur Intensitas Kardio
Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah menganggap kardio harus selalu membuat tubuh sangat lelah.
Padahal, intensitas dapat disesuaikan. Salah satu cara sederhana untuk menilainya adalah menggunakan talk test. Pada intensitas sedang, seseorang biasanya masih bisa berbicara, meskipun tidak senyaman ketika sedang beristirahat.
Untuk pemula, kardio dengan intensitas sedang dapat menjadi pilihan awal yang lebih mudah dipertahankan.
Jangan Langsung Mengejar Durasi Panjang
Jika sebelumnya jarang berolahraga, tidak perlu langsung melakukan kardio dalam waktu lama.
Mulailah dengan durasi yang terasa masuk akal. Setelah tubuh terbiasa, durasi atau frekuensi dapat ditingkatkan secara perlahan.
Sekitar 20–30 menit per sesi sudah dapat menjadi titik awal yang praktis bagi sebagian pemula, selama intensitas dan kondisi tubuh sesuai.
Cara Mengatur Latihan Beban
Latihan beban membutuhkan perhatian lebih pada teknik. Pemula tidak perlu terburu-buru meningkatkan beban.
Dalam satu sesi, latihan dapat dimulai dengan beberapa gerakan dasar yang melibatkan kelompok otot berbeda.
Contohnya:
- Squat untuk pola gerakan tubuh bagian bawah.
- Wall push-up untuk latihan dorong.
- Glute bridge untuk bagian pinggul dan bokong.
- Row dengan resistance band untuk gerakan tarik.
- Latihan inti dengan variasi yang sesuai kemampuan.
Gunakan gerakan yang dapat dilakukan dengan kontrol. Jika teknik mulai berantakan karena kelelahan, intensitas sebaiknya disesuaikan.
Kardio Sebelum atau Sesudah Latihan Beban?
Pertanyaan ini cukup sering muncul. Jawabannya bergantung pada tujuan utama latihan.
Jika fokus utama hari tersebut adalah latihan beban, latihan kekuatan sebaiknya mendapatkan energi dan perhatian lebih dulu. Kardio ringan dapat digunakan sebagai pemanasan atau dilakukan setelah latihan.
Sebaliknya, jika tujuan utama adalah meningkatkan kebugaran kardiorespirasi, kardio bisa menjadi bagian utama sesi tersebut.
Tidak ada aturan bahwa semua orang harus melakukan kardio terlebih dahulu atau latihan beban terlebih dahulu. Prioritas latihan sebaiknya mengikuti tujuan dan kemampuan masing-masing.
Apakah Kardio dan Latihan Beban Bisa Dilakukan di Hari yang Sama?
Bisa, tetapi tidak selalu harus dilakukan.
Menggabungkan keduanya dalam satu sesi dapat menghemat waktu. Namun, bagi pemula, latihan yang terlalu panjang justru bisa membuat tubuh cepat lelah.
Jika ingin menggabungkan keduanya, salah satu pola sederhana adalah:
- Pemanasan ringan.
- Latihan beban.
- Kardio ringan hingga sedang.
- Pendinginan.
Durasi total dapat dibuat sekitar 45–60 menit, tetapi tidak perlu dipaksakan jika tubuh belum terbiasa.
Pentingnya Hari Istirahat
Istirahat sering dianggap sebagai bagian yang tidak produktif. Padahal, pemulihan merupakan bagian dari rutinitas olahraga.
Setelah melakukan latihan, tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri. Tidur yang cukup, makanan bergizi, hidrasi, dan aktivitas ringan dapat mendukung proses pemulihan.
Dalam jadwal mingguan, menyediakan sekitar 2–3 hari tanpa latihan berat dapat menjadi pilihan yang masuk akal bagi pemula, tergantung frekuensi dan intensitas latihan.
Hari istirahat juga dapat membantu menjaga motivasi agar olahraga tidak terasa seperti kewajiban yang melelahkan.
Jangan Mengabaikan Pemanasan dan Pendinginan
Pemanasan dan pendinginan tidak perlu dibuat rumit.
Sebelum latihan, lakukan gerakan ringan selama sekitar 5–10 menit untuk mempersiapkan tubuh. Setelah latihan, turunkan intensitas secara bertahap dan lakukan gerakan ringan yang nyaman.
Tujuan utamanya adalah membuat perpindahan dari kondisi istirahat ke latihan dan dari latihan kembali ke kondisi normal terasa lebih bertahap.
Contoh Jadwal Berdasarkan Tingkat Kesibukan
Tidak semua orang memiliki waktu olahraga yang sama. Karena itu, jadwal dapat disesuaikan.
Jika Hanya Punya 3 Hari
Gunakan pola:
- Senin: latihan beban.
- Rabu: kardio.
- Sabtu: latihan beban + kardio ringan.
Jika Punya 4 Hari
Pola yang bisa digunakan:
- Senin: latihan beban.
- Selasa: kardio.
- Kamis: latihan beban.
- Sabtu: kardio.
Jika Punya 5 Hari
Pola dapat dibuat:
- Senin: latihan beban.
- Selasa: kardio.
- Rabu: latihan beban.
- Jumat: kardio.
- Sabtu: latihan beban ringan atau aktivitas fisik yang menyenangkan.
Semakin banyak hari latihan, bukan berarti setiap sesi harus semakin berat. Intensitas tetap perlu disesuaikan.
Kesalahan yang Perlu Dihindari
Saat menyusun Jadwal Kardio dan Latihan Beban, beberapa kesalahan berikut sebaiknya dihindari:
- Langsung membuat jadwal latihan setiap hari.
- Menambah beban terlalu cepat.
- Melakukan kardio berat setelah latihan yang sudah melelahkan.
- Tidak menyediakan waktu pemulihan.
- Mengabaikan teknik.
- Memaksakan latihan ketika tubuh terasa tidak sehat.
- Meniru jadwal orang lain tanpa menyesuaikannya.
- Menganggap keringat sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan olahraga.
Jadwal yang baik adalah jadwal yang bisa dilakukan secara konsisten dan sesuai kemampuan.
Bagaimana Mengetahui Jadwal Sudah Terlalu Berat?
Ada perbedaan antara merasa lelah setelah berolahraga dan mengalami keluhan yang menunjukkan bahwa tubuh membutuhkan perhatian.