RIGHTBUSSINESS – Anemia bukan hanya soal kekurangan darah. Kondisi ini dapat terjadi karena tubuh kekurangan zat besi, tidak memperoleh vitamin tertentu, mengalami kehilangan darah, memiliki penyakit kronis, atau karena sel darah merah rusak lebih cepat dari biasanya. Memahami jenis-jenis anemia dan perbedaan penyebabnya penting karena setiap jenis membutuhkan penanganan yang berbeda.
Secara global, anemia masih menjadi masalah kesehatan yang cukup besar. WHO memperkirakan sekitar 30,7% perempuan usia 15–49 tahun mengalami anemia pada 2023, sementara prevalensinya mencapai 35,5% pada perempuan hamil. Pada anak usia 6–59 bulan, sekitar 39,8% mengalami anemia berdasarkan data global WHO.
Apa Itu Anemia?
Anemia adalah kondisi ketika jumlah sel darah merah atau kadar hemoglobin dalam tubuh berada di bawah normal. Hemoglobin merupakan protein dalam sel darah merah yang bertugas membawa oksigen dari paru-paru ke berbagai jaringan tubuh.
Ketika hemoglobin tidak mencukupi, pasokan oksigen ke jaringan dapat berkurang. Akibatnya, seseorang dapat mengalami mudah lelah, lemas, pusing, sakit kepala, atau sesak terutama saat melakukan aktivitas. Namun, anemia ringan terkadang tidak menimbulkan gejala yang jelas.
Yang perlu dipahami, anemia tidak selalu disebabkan oleh kekurangan zat besi. Jenis anemia sangat beragam dan penyebabnya pun berbeda-beda.
Jenis-Jenis Anemia Berdasarkan Penyebabnya
Secara sederhana, anemia dapat dibedakan berdasarkan masalah utama yang terjadi dalam tubuh, yaitu tubuh tidak mampu membuat cukup sel darah merah, kehilangan terlalu banyak darah, atau sel darah merah mengalami kerusakan terlalu cepat.
Berikut beberapa jenis anemia yang penting untuk dikenali.
1. Anemia Defisiensi Besi
Anemia defisiensi besi merupakan jenis anemia yang paling umum. Kondisi ini terjadi ketika tubuh tidak memiliki cukup zat besi untuk memproduksi hemoglobin dalam jumlah yang memadai.
Zat besi dapat berkurang karena asupan makanan yang tidak mencukupi, kehilangan darah, atau tubuh mengalami gangguan dalam menyerap zat besi.
Beberapa penyebab yang dapat berhubungan dengan anemia defisiensi besi antara lain:
- Pola makan rendah zat besi.
- Menstruasi yang menyebabkan kehilangan darah cukup banyak.
- Perdarahan pada saluran pencernaan.
- Kondisi tertentu yang mengganggu penyerapan zat besi.
- Kebutuhan zat besi yang meningkat pada masa pertumbuhan atau kehamilan.
Karena anemia defisiensi besi merupakan jenis yang paling sering ditemukan, kekurangan zat besi menjadi salah satu penyebab nutrisi utama anemia secara global. WHO juga menyebut defisiensi zat besi sebagai salah satu penyebab terbesar anemia.
2. Anemia Defisiensi Vitamin B12
Jenis anemia berikutnya berkaitan dengan kekurangan vitamin B12. Tubuh membutuhkan vitamin B12 untuk membantu pembentukan sel darah yang sehat.
Kekurangan vitamin B12 tidak selalu terjadi karena seseorang jarang mengonsumsi makanan yang mengandung vitamin tersebut. Masalah penyerapan di saluran pencernaan juga dapat menjadi penyebab.
Faktor yang dapat berperan antara lain:
- Asupan vitamin B12 yang tidak mencukupi.
- Gangguan penyerapan di saluran pencernaan.
- Kondisi yang menyebabkan tubuh kekurangan faktor intrinsik.
- Beberapa penyakit pada saluran pencernaan.
- Penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang.
Anemia akibat kekurangan vitamin B12 juga memiliki karakteristik yang berbeda karena vitamin ini berperan dalam fungsi sistem saraf. Kekurangan yang berlangsung lama dapat berkaitan dengan kesemutan, gangguan keseimbangan, perubahan kemampuan berpikir, atau gangguan saraf.
3. Anemia Defisiensi Folat
Folat atau vitamin B9 juga diperlukan dalam pembentukan sel darah merah. Jika tubuh kekurangan folat, produksi sel darah merah dapat terganggu sehingga anemia dapat berkembang.
Kekurangan folat dapat berkaitan dengan pola makan yang tidak mencukupi kebutuhan tubuh atau kondisi tertentu yang meningkatkan kebutuhan nutrisi.
WHO memasukkan kekurangan folat sebagai salah satu penyebab nutrisi penting anemia selain kekurangan zat besi, vitamin B12, dan vitamin A.
Perbedaan utama dengan anemia defisiensi besi terletak pada zat yang mengalami kekurangan. Pada anemia defisiensi besi, masalah utamanya adalah cadangan zat besi yang tidak mencukupi, sedangkan anemia defisiensi folat berkaitan dengan kurangnya vitamin B9.
4. Anemia karena Penyakit Kronis atau Peradangan
Tidak semua anemia berasal dari masalah makanan. Penyakit kronis dan peradangan yang berlangsung lama juga dapat berhubungan dengan anemia.
Kondisi ini sering disebut anemia akibat peradangan atau anemia penyakit kronis. Peradangan dapat mengganggu cara tubuh menggunakan dan mengatur zat besi serta memengaruhi produksi sel darah merah.
Beberapa kondisi kronis dapat berkaitan dengan jenis anemia ini, misalnya penyakit ginjal atau penyakit lain yang menyebabkan peradangan berkepanjangan.
Karena penyebab dasarnya berbeda, mengonsumsi zat besi saja belum tentu menjadi solusi. Penyakit atau kondisi yang mendasarinya perlu dinilai terlebih dahulu.
5. Anemia Hemolitik
Pada anemia hemolitik, masalah utamanya bukan produksi sel darah merah yang terlalu sedikit, melainkan sel darah merah yang dihancurkan lebih cepat daripada kemampuan tubuh untuk menggantinya.
Dalam kondisi normal, sel darah merah memiliki usia hidup yang terbatas dan kemudian dihancurkan secara alami. Pada anemia hemolitik, proses penghancuran tersebut terjadi terlalu cepat.
Penyebabnya dapat berasal dari berbagai faktor, termasuk:
- Kondisi autoimun.
- Infeksi tertentu.
- Beberapa jenis obat.
- Kelainan darah yang diturunkan.
- Kondisi seperti penyakit sel sabit atau talasemia.
Dengan demikian, anemia hemolitik memiliki mekanisme yang cukup berbeda dibandingkan anemia defisiensi besi.
6. Anemia Aplastik
Anemia aplastik termasuk kondisi yang jarang tetapi serius. Pada kondisi ini, sumsum tulang mengalami gangguan sehingga tidak mampu menghasilkan sel darah baru dalam jumlah yang cukup.
Menariknya, anemia aplastik tidak hanya memengaruhi sel darah merah. Produksi sel darah putih dan trombosit juga dapat menurun karena masalah terjadi pada sistem pembentukan sel darah di sumsum tulang.
Penyebabnya dapat berhubungan dengan kerusakan sel punca di sumsum tulang. Dalam sebagian kasus, penyebab pastinya tidak diketahui, sementara kasus lainnya dapat berkaitan dengan faktor tertentu atau kelainan yang diturunkan.
7. Anemia akibat Perdarahan
Kehilangan darah juga dapat menyebabkan anemia. Jika darah yang hilang cukup banyak atau terjadi berulang kali, tubuh bisa kehilangan sel darah merah dan zat besi lebih cepat daripada kemampuannya untuk menggantikannya.
Perdarahan dapat terjadi secara terlihat maupun tidak langsung. Contohnya adalah perdarahan akibat cedera, prosedur medis, menstruasi yang sangat banyak, atau perdarahan pada saluran pencernaan.
Pada kasus perdarahan yang berlangsung lama, seseorang juga dapat mengalami kekurangan zat besi sehingga akhirnya berkembang menjadi anemia defisiensi besi.
Perbedaan Penyebab Anemia yang Perlu Dipahami
Walaupun sama-sama disebut anemia, mekanisme di balik setiap jenis tidak selalu sama. Perbedaan sederhananya dapat dilihat dari sumber masalahnya:
- Defisiensi besi: tubuh kekurangan zat besi untuk membentuk hemoglobin.
- Defisiensi vitamin B12: tubuh kekurangan vitamin B12 atau mengalami gangguan penyerapan.
- Defisiensi folat: tubuh kekurangan vitamin B9 yang diperlukan untuk pembentukan sel darah.
- Penyakit kronis: peradangan atau penyakit tertentu mengganggu produksi dan pemanfaatan zat besi.
- Hemolitik: sel darah merah dihancurkan terlalu cepat.
- Aplastik: sumsum tulang tidak mampu memproduksi cukup sel darah.
- Akibat perdarahan: tubuh kehilangan sel darah merah secara langsung.
Karena penyebabnya berbeda, pemeriksaan medis diperlukan untuk mengetahui jenis anemia yang sebenarnya. Gejala saja tidak cukup untuk menentukan penyebabnya.
Seberapa Umum Anemia?
Data global menunjukkan bahwa anemia masih menjadi masalah kesehatan yang luas. WHO memperkirakan sekitar 40% anak usia 6–59 bulan, 37% perempuan hamil, dan 30% perempuan usia 15–49 tahun mengalami anemia berdasarkan estimasi global yang digunakan dalam laporan WHO.
Data terbaru WHO untuk 2023 menunjukkan prevalensi anemia sekitar:
- 30,7% pada perempuan usia 15–49 tahun.
- 35,5% pada perempuan hamil usia 15–49 tahun.
- 30,5% pada perempuan yang tidak hamil usia 15–49 tahun.
Angka tersebut menunjukkan bahwa anemia tidak hanya menjadi persoalan individu, tetapi juga menjadi isu kesehatan masyarakat, terutama pada kelompok yang memiliki kebutuhan zat gizi lebih tinggi atau lebih rentan mengalami kehilangan darah.
Bagaimana Mengetahui Jenis Anemia?
Menentukan jenis anemia tidak cukup hanya dengan melihat gejalanya. Pemeriksaan darah biasanya menjadi bagian penting dalam proses diagnosis.