Maag Kronis: Kenali Gejala, Penyebab, Cara Menangani, dan Kapan Perlu Diperiksa

RIGHTBUSSINESS – Keluhan seperti perih di ulu hati, mual, kembung, cepat kenyang, atau rasa tidak nyaman setelah makan sering disebut sebagai “maag”. Namun, maag kronis sebenarnya bukan sekadar masalah asam lambung yang muncul sesekali. Dalam istilah medis, keluhan tersebut dapat berkaitan dengan gastritis kronis, yaitu peradangan pada lapisan lambung yang berlangsung dalam jangka panjang. Penyebabnya beragam, sehingga penanganannya juga tidak bisa disamakan untuk setiap orang.

Apa Itu Maag Kronis?

Maag kronis umumnya digunakan untuk menggambarkan keluhan lambung yang berlangsung atau berulang dalam waktu lama. Dalam konteks medis, gastritis kronis berarti peradangan pada lapisan lambung yang berkembang secara perlahan dan dapat bertahan dalam waktu panjang.

Gastritis berbeda dengan gastropati. Pada gastritis terdapat peradangan pada mukosa lambung, sedangkan gastropati lebih menggambarkan kerusakan lapisan lambung dengan sedikit atau tanpa peradangan. Keduanya dapat menimbulkan keluhan yang mirip sehingga diagnosis tidak cukup hanya berdasarkan gejala.

Secara global, infeksi Helicobacter pylori (H. pylori) menjadi salah satu fakta penting dalam pembahasan maag kronis. NIDDK menyebut sekitar setengah populasi dunia terinfeksi bakteri tersebut, meskipun tidak semua orang yang terinfeksi mengalami gejala.

Gejala Maag Kronis yang Perlu Dikenali

Tidak semua orang dengan gastritis kronis merasakan keluhan yang jelas. Bahkan, sebagian besar orang dengan gastritis atau gastropati tidak memiliki gejala. Jika gejala muncul, keluhannya dapat menyerupai gangguan pencernaan lainnya.

Beberapa gejala yang dapat terjadi antara lain:

  • Nyeri atau rasa tidak nyaman di bagian atas perut.
  • Rasa perih atau terbakar di ulu hati.
  • Mual.
  • Muntah.
  • Perut terasa kembung.
  • Cepat merasa kenyang ketika makan.
  • Terasa terlalu penuh setelah makan.
  • Nafsu makan berkurang.
  • Pada sebagian kasus, berat badan dapat menurun.

Apakah Maag Kronis Selalu Terasa Sakit?

Tidak. Ini salah satu hal yang sering disalahpahami.

Seseorang bisa mengalami gastritis kronis dengan gejala ringan atau bahkan tanpa keluhan yang khas. Karena itu, intensitas sakit tidak selalu menunjukkan seberapa berat kondisi pada lapisan lambung.

Jika keluhan terus berulang selama berminggu-minggu atau mengganggu aktivitas sehari-hari, sebaiknya jangan hanya mengandalkan perkiraan bahwa penyebabnya adalah “maag biasa”.

Penyebab Maag Kronis

Penyebab maag kronis dapat berbeda antara satu orang dan orang lainnya. Salah satu penyebab yang paling penting adalah infeksi H. pylori.

1. Infeksi Helicobacter pylori

H. pylori merupakan bakteri yang dapat menginfeksi lapisan lambung. Infeksi ini merupakan penyebab paling umum gastritis menurut NIDDK dan dapat menyebabkan gastritis kronis. Tanpa penanganan yang sesuai, infeksi H. pylori dapat bertahan dalam jangka panjang dan meningkatkan risiko komplikasi tertentu.

Karena itu, maag yang sering kambuh tidak selalu berarti seseorang hanya memiliki masalah pola makan. Pada kondisi tertentu, dokter dapat mempertimbangkan pemeriksaan H. pylori.

2. Penggunaan Obat Antiinflamasi Tertentu

Obat antiinflamasi nonsteroid atau NSAID, seperti beberapa obat pereda nyeri, dapat mengiritasi atau merusak lapisan lambung jika digunakan dalam kondisi tertentu, terutama secara berkepanjangan.

NIDDK menyebut NSAID sebagai salah satu penyebab penting reactive gastropathy dan dapat berhubungan dengan kerusakan lapisan lambung serta komplikasi seperti tukak.

Karena itu, penggunaan obat sebaiknya mengikuti petunjuk dokter atau tenaga kesehatan, terutama jika keluhan lambung sering muncul.

3. Gastritis Autoimun

Pada gastritis autoimun, sistem kekebalan tubuh menyerang sel sehat pada lapisan lambung. Kondisi ini berbeda dari gastritis yang disebabkan oleh H. pylori dan membutuhkan evaluasi medis untuk menentukan penanganannya.

Gastritis autoimun juga dapat memengaruhi penyerapan vitamin B12 dan zat besi sehingga pada kondisi tertentu dapat berkaitan dengan anemia.

Apakah Pola Makan Menjadi Penyebab Utama?

Pola makan memang dapat memengaruhi kenyamanan seseorang ketika mengalami keluhan lambung. Namun, penting untuk membedakan antara makanan yang memperburuk gejala dan penyebab utama gastritis.

NIDDK menjelaskan bahwa penelitian belum menunjukkan pola makan sebagai penyebab utama sebagian besar kasus gastritis atau gastropati. Artinya, tidak tepat menyimpulkan bahwa semua kasus maag kronis semata-mata disebabkan oleh makanan tertentu.

Pada praktiknya, seseorang mungkin merasa lebih tidak nyaman setelah mengonsumsi makanan atau minuman tertentu. Respons tersebut dapat berbeda-beda sehingga pencatatan makanan dan gejala dapat membantu menemukan pola pribadi.

Faktor yang Dapat Memperburuk Keluhan Lambung

Selain penyebab medis, beberapa faktor dapat membuat keluhan lambung terasa lebih mengganggu.

Kementerian Kesehatan RI mencatat sejumlah faktor yang dapat berkaitan dengan gastritis, termasuk stres, pola makan tidak teratur, konsumsi alkohol, merokok, penggunaan obat penghilang nyeri dalam jangka panjang, serta infeksi H. pylori.

Namun, faktor pemicu gejala tidak selalu sama dengan penyebab dasar penyakit. Karena itu, mengurangi pemicu saja belum tentu menyelesaikan masalah jika terdapat penyebab medis yang mendasarinya.

Bagaimana Maag Kronis Didiagnosis?

Diagnosis tidak sebaiknya dibuat hanya berdasarkan lokasi sakit atau frekuensi kambuh. Dokter dapat menilai riwayat keluhan, obat yang digunakan, pola gejala, serta faktor risiko.

Jika diperlukan, pemeriksaan dapat meliputi:

  • Tes darah.
  • Tes tinja.
  • Tes napas untuk H. pylori.
  • Endoskopi saluran cerna bagian atas.
  • Biopsi saat endoskopi dalam kondisi tertentu.
  • Pemeriksaan lain sesuai dugaan penyebab.

Pemeriksaan tersebut tidak harus dilakukan pada semua orang. Jenis pemeriksaan ditentukan berdasarkan kondisi dan penilaian tenaga medis.

Penanganan Maag Kronis

Penanganan maag kronis bergantung pada penyebabnya. Tidak ada satu obat yang otomatis cocok untuk semua kasus.

Jika gastritis disebabkan H. pylori, dokter dapat memberikan kombinasi obat untuk membasmi bakteri tersebut. Regimen pengobatan umumnya melibatkan antibiotik dan obat penekan produksi asam, dengan obat lain tertentu sesuai kondisi dan pertimbangan dokter.

Jika penyebabnya berkaitan dengan penggunaan NSAID, dokter dapat mengevaluasi penggunaan obat tersebut dan mempertimbangkan penyesuaian terapi.

Pada gastritis autoimun, penanganan dapat mencakup pemantauan dan koreksi kekurangan zat gizi tertentu seperti vitamin B12 atau zat besi apabila memang ditemukan kekurangan.

Jangan Sembarangan Mengonsumsi Obat Lambung

Obat lambung memiliki jenis dan fungsi yang berbeda. Ada obat yang bekerja menetralkan asam, ada yang mengurangi produksi asam, dan ada pula yang digunakan untuk kondisi tertentu.

Mengonsumsi obat secara terus-menerus tanpa mengetahui penyebab keluhan dapat membuat masalah dasarnya tidak teridentifikasi. Jika gejala sering kambuh, pemeriksaan medis lebih bermanfaat daripada sekadar mengganti-ganti obat sendiri.

Kebiasaan yang Bisa Membantu Menjaga Lambung

Perubahan kebiasaan tidak menggantikan pengobatan ketika terdapat penyakit tertentu, tetapi dapat membantu menjaga kenyamanan pencernaan.

Beberapa langkah yang dapat dilakukan antara lain:

  • Makan secara teratur sesuai kebutuhan tubuh.
  • Perhatikan makanan atau minuman yang terbukti memicu keluhan pribadi.
  • Hindari penggunaan obat pereda nyeri secara sembarangan.
  • Cukupi kebutuhan cairan.
  • Tidur dan beristirahat dengan cukup.
  • Kelola stres dengan cara yang sehat.
  • Hindari kebiasaan merokok.
  • Konsultasikan penggunaan obat secara rutin dengan tenaga kesehatan.

Tidak perlu membuat daftar pantangan yang sangat panjang tanpa alasan. Respons terhadap makanan dapat berbeda pada setiap orang, sementara penyebab gastritis sendiri tidak selalu berkaitan dengan makanan.

Komplikasi Maag Kronis yang Perlu Diwaspadai

Gastritis kronis tertentu dapat menimbulkan komplikasi jika penyebabnya tidak ditangani. H. pylori dan gastritis autoimun, misalnya, dapat berhubungan dengan gastritis atrofi. Kondisi tertentu juga dapat meningkatkan risiko tukak, gangguan penyerapan zat besi atau vitamin B12, serta perubahan pada lapisan lambung.

Scroll to Top