RIGHTBUSSINESS- Tekanan darah tinggi atau hipertensi sering kali tidak terasa, tetapi bisa memberi dampak serius jika dibiarkan dalam waktu lama. Kondisi ini berkaitan dengan penyakit jantung, stroke, dan gangguan pada organ penting lainnya. Karena itu, mengenali tekanan darah tinggi sejak awal dan membiasakan pola hidup sehat menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan.

Apa Itu Tekanan Darah Tinggi?

Tekanan darah tinggi adalah kondisi ketika tekanan darah yang mengalir melalui pembuluh darah berada pada tingkat yang terlalu tinggi secara menetap. Hasil pengukuran tekanan darah biasanya ditulis dalam dua angka, yaitu tekanan sistolik dan diastolik.

Baca Juga : Kolesterol Tinggi? Coba Konsumsi 7 Buah Penurun Kolesterol Ini!

Tekanan sistolik menunjukkan tekanan ketika jantung memompa darah, sedangkan tekanan diastolik menunjukkan tekanan ketika jantung beristirahat di antara denyut. Dalam sejumlah pedoman medis, tekanan darah 130/80 mmHg atau lebih dapat masuk dalam kategori hipertensi, terutama jika hasil tersebut konsisten atau seseorang sedang menggunakan obat penurun tekanan darah.

Hipertensi termasuk masalah kesehatan yang sangat umum. Data WHO memperkirakan sekitar 1,28 miliar orang dewasa berusia 30–79 tahun di dunia mengalami hipertensi. Sekitar 46% orang dengan hipertensi diperkirakan belum mengetahui bahwa mereka memiliki kondisi tersebut. Sementara itu, hanya sekitar 21% penderita hipertensi yang tekanan darahnya berada dalam kondisi terkontrol.

Tekanan Darah Tinggi Sering Tidak Menimbulkan Gejala

Salah satu alasan hipertensi perlu diperhatikan adalah karena seseorang bisa merasa baik-baik saja meskipun tekanan darahnya tinggi. CDC menyebut tekanan darah tinggi umumnya tidak memiliki tanda atau gejala peringatan yang khas.

Karena itu, jangan hanya mengandalkan kondisi tubuh untuk mengetahui apakah tekanan darah normal. Pemeriksaan tekanan darah secara berkala dapat membantu mendeteksi perubahan lebih awal.

Beberapa keluhan seperti sakit kepala, pusing, atau merasa kurang nyaman memang dapat muncul pada sebagian orang, tetapi keluhan tersebut tidak bisa digunakan sebagai satu-satunya cara untuk memastikan seseorang mengalami hipertensi. Pengukuran tekanan darah tetap diperlukan.

Seberapa Umum Tekanan Darah Tinggi?

Gambaran statistik menunjukkan betapa luasnya masalah ini. Sebagai contoh, data CDC periode Agustus 2021–Agustus 2023 menunjukkan 47,7% orang dewasa di Amerika Serikat mengalami hipertensi berdasarkan definisi yang digunakan dalam survei tersebut. Angkanya mencapai 50,8% pada pria dan 44,6% pada wanita.

Prevalensinya juga meningkat seiring usia:

  • Usia 18–39 tahun: sekitar 23,4%
  • Usia 40–59 tahun: sekitar 52,5%
  • Usia 60 tahun ke atas: sekitar 71,6%

Data tersebut berasal dari populasi Amerika Serikat sehingga tidak dapat langsung dianggap sebagai angka untuk Indonesia. Namun, angka tersebut menunjukkan bahwa hipertensi merupakan masalah kesehatan yang perlu diperhatikan, terutama ketika usia bertambah.

Penyebab dan Faktor Risiko Tekanan Darah Tinggi

Tekanan darah tinggi biasanya tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Pola makan, aktivitas fisik, usia, riwayat keluarga, kondisi kesehatan tertentu, serta kebiasaan sehari-hari dapat berperan.

1. Terlalu Banyak Mengonsumsi Garam

Asupan natrium yang tinggi dapat membuat tubuh menahan lebih banyak cairan dan pada sebagian orang dapat berkontribusi terhadap peningkatan tekanan darah. Makanan instan, makanan olahan, makanan ringan kemasan, serta makanan yang sangat asin perlu dikonsumsi secara bijak.

CDC merekomendasikan pola makan yang lebih banyak mengandung sayur, buah, serat, dan kalium serta lebih rendah garam dan lemak jenuh sebagai bagian dari upaya mencegah tekanan darah tinggi.

2. Kurang Bergerak

Gaya hidup yang minim aktivitas fisik juga dapat meningkatkan risiko. Aktivitas fisik secara rutin membantu menjaga kesehatan jantung dan mendukung pengelolaan berat badan.

Tidak harus langsung melakukan olahraga berat. Aktivitas sederhana yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian dari kebiasaan hidup aktif.

3. Berat Badan Berlebih

Berat badan yang berlebih dapat meningkatkan beban kerja sistem kardiovaskular dan berkaitan dengan risiko tekanan darah tinggi. Menjaga berat badan dalam rentang yang sehat menjadi salah satu bagian dari pencegahan hipertensi.

4. Faktor Usia dan Riwayat Keluarga

Risiko hipertensi cenderung meningkat seiring bertambahnya usia. Riwayat keluarga juga dapat memengaruhi kemungkinan seseorang mengalami tekanan darah tinggi. Faktor-faktor tersebut tidak semuanya bisa diubah, tetapi gaya hidup tetap dapat membantu menurunkan risiko.

5. Kebiasaan Hidup yang Kurang Sehat

Beberapa kebiasaan seperti merokok, kurang aktivitas fisik, pola makan tidak seimbang, serta konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi.

Bahaya Tekanan Darah Tinggi Jika Tidak Dikontrol

Tekanan darah tinggi bukan sekadar angka pada alat pengukur. Jika berlangsung lama dan tidak ditangani dengan baik, hipertensi dapat meningkatkan risiko berbagai masalah kesehatan.

Penyakit Jantung

Tekanan yang terus-menerus tinggi membuat sistem kardiovaskular bekerja lebih keras. Dalam jangka panjang, kondisi tersebut dapat meningkatkan risiko penyakit jantung.

Stroke

Hipertensi merupakan salah satu faktor risiko penting untuk stroke. Tekanan darah yang tidak terkendali dapat merusak pembuluh darah dan meningkatkan risiko terjadinya masalah pada aliran darah ke otak.

Gangguan Ginjal

Ginjal memiliki jaringan pembuluh darah yang sangat banyak. Tekanan darah tinggi yang berlangsung lama dapat merusak pembuluh darah tersebut sehingga fungsi ginjal dapat terganggu.

Baca Juga : Olahraga untuk Kolesterol: Cara Alami Menurunkan Kolesterol Jahat

CDC menyatakan bahwa tekanan darah tinggi meningkatkan risiko penyakit jantung dan stroke, yang termasuk

Halaman:
1 2