RIGHTBUSSINESS- Tekanan darah tinggi atau hipertensi sering datang tanpa gejala yang jelas. Karena itu, memahami penyebab hipertensi penting agar seseorang bisa mengenali faktor risikonya sejak dini. Pola makan tinggi garam, kurang bergerak, berat badan berlebih, faktor genetik, usia, stres, hingga penyakit tertentu dapat berperan dalam meningkatnya tekanan darah.

Menurut WHO, sekitar 1,4 miliar orang dewasa berusia 30–79 tahun di dunia mengalami hipertensi pada 2024, setara dengan sekitar 33% populasi pada kelompok usia tersebut. Bahkan, sekitar 44% penderita hipertensi tidak mengetahui bahwa dirinya mengalami kondisi tersebut.

Apa Itu Hipertensi?

Hipertensi adalah kondisi ketika tekanan darah di dalam pembuluh darah terus berada pada tingkat yang terlalu tinggi. WHO menggunakan batas 140/90 mmHg atau lebih untuk diagnosis hipertensi apabila hasil tersebut ditemukan pada pengukuran di dua hari yang berbeda.

Baca Juga : Cara Menurunkan Gula Darah Secara Aman dan Alami

Tekanan darah terdiri dari dua angka. Angka pertama disebut sistolik, yaitu tekanan ketika jantung memompa darah. Sementara itu, angka kedua disebut diastolik, yaitu tekanan ketika jantung beristirahat di antara denyut.

Di Indonesia, masalah hipertensi juga cukup besar. Data Riskesdas 2018 yang dikutip Kementerian Kesehatan menunjukkan prevalensi hipertensi sebesar 34,1%, meningkat dari 25,8% pada 2013. Kementerian Kesehatan juga menyebutkan bahwa sekitar sepertiga kasus hipertensi di Indonesia terdiagnosis.

Penyebab Hipertensi yang Paling Sering Terjadi

Pada sebagian besar orang, hipertensi tidak disebabkan oleh satu hal saja. Kombinasi antara faktor keturunan, usia, kebiasaan sehari-hari, pola makan, dan kondisi kesehatan dapat membuat tekanan darah meningkat.

1. Konsumsi Garam Berlebihan

Salah satu faktor yang paling sering dikaitkan dengan tekanan darah tinggi adalah konsumsi garam atau natrium secara berlebihan. Natrium dapat membuat tubuh menahan lebih banyak cairan. Bertambahnya volume cairan dalam tubuh kemudian dapat meningkatkan tekanan pada pembuluh darah.

Makanan yang perlu diperhatikan bukan hanya garam dapur. Natrium juga dapat ditemukan dalam makanan kemasan, makanan instan, makanan cepat saji, makanan olahan, saus, serta berbagai camilan.

Kementerian Kesehatan memasukkan kebiasaan mengonsumsi makanan asin sebagai salah satu perilaku yang dapat meningkatkan risiko hipertensi.

2. Kurang Aktivitas Fisik

Tubuh yang jarang bergerak juga dapat meningkatkan risiko hipertensi. Aktivitas fisik membantu menjaga kebugaran jantung dan pembuluh darah. Sebaliknya, kebiasaan duduk terlalu lama dan minim olahraga dapat berkontribusi terhadap berat badan berlebih serta gangguan metabolisme yang berkaitan dengan tekanan darah.

WHO memasukkan kurangnya aktivitas fisik sebagai salah satu faktor risiko hipertensi yang dapat dimodifikasi.

Bukan berarti seseorang harus melakukan olahraga berat. Aktivitas fisik secara rutin sesuai kemampuan dan kondisi kesehatan sudah menjadi bagian penting dari gaya hidup sehat.

3. Berat Badan Berlebih atau Obesitas

Berat badan berlebih dapat membuat jantung bekerja lebih keras untuk memenuhi kebutuhan jaringan tubuh. Kondisi tersebut juga sering berkaitan dengan perubahan metabolisme dan gangguan kesehatan lain yang dapat meningkatkan tekanan darah.

WHO menyebut kelebihan berat badan dan obesitas sebagai faktor risiko hipertensi. Karena itu, menjaga pola makan seimbang dan tetap aktif dapat membantu menurunkan berbagai faktor risiko secara bersamaan.

4. Faktor Genetik dan Riwayat Keluarga

Tidak semua penyebab hipertensi berasal dari kebiasaan hidup. Faktor genetik juga dapat memainkan peran.

Seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan hipertensi dapat mempunyai risiko lebih tinggi mengalami tekanan darah tinggi. Namun, memiliki riwayat keluarga bukan berarti seseorang pasti mengalami hipertensi.

Faktor keturunan biasanya berinteraksi dengan lingkungan dan gaya hidup. Artinya, kebiasaan makan, aktivitas fisik, berat badan, dan faktor lainnya tetap memiliki peran.

5. Bertambahnya Usia

Risiko hipertensi cenderung meningkat seiring bertambahnya usia. Pembuluh darah dapat mengalami perubahan secara alami sehingga menjadi kurang elastis dibandingkan sebelumnya.

Namun, hipertensi bukan hanya masalah orang lanjut usia. Faktor gaya hidup dan kondisi kesehatan tertentu dapat membuat tekanan darah meningkat pada usia yang lebih muda. Karena itu, pemeriksaan tekanan darah tetap penting sesuai anjuran tenaga kesehatan.

6. Merokok

Merokok dapat memberikan dampak buruk terhadap sistem kardiovaskular. Kandungan dalam asap rokok dapat memengaruhi pembuluh darah dan meningkatkan risiko penyakit jantung serta pembuluh darah.

Kementerian Kesehatan memasukkan kebiasaan merokok sebagai salah satu perilaku yang dapat meningkatkan faktor risiko hipertensi.

Menghindari paparan asap rokok juga merupakan bagian dari upaya menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah.

7. Konsumsi Alkohol Berlebihan

Konsumsi alkohol berlebihan dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi. WHO juga memasukkan konsumsi alkohol sebagai salah satu faktor risiko hipertensi yang dapat dimodifikasi.

Bagi remaja, alkohol juga memiliki risiko kesehatan dan keselamatan tersendiri, sehingga sebaiknya dihindari.

8. Stres dan Kurang Istirahat

Stres tidak selalu menjadi penyebab tunggal hipertensi, tetapi kondisi stres dapat memengaruhi tekanan darah, terutama ketika berlangsung terus-menerus dan disertai kebiasaan kurang sehat.

Misalnya, seseorang yang sedang mengalami tekanan emosional mungkin menjadi kurang aktif, pola makannya berubah, atau waktu tidurnya berantakan. Kombinasi berbagai kebiasaan tersebut dapat ikut memengaruhi kesehatan jantung dan pembuluh darah.

9. Penyakit Ginjal dan Kondisi Medis Tertentu

Hipertensi juga dapat berkaitan dengan penyakit atau kondisi kesehatan tertentu. Salah satunya adalah gangguan ginjal. Ginjal memiliki peran penting dalam mengatur keseimbangan cairan dan tekanan darah sehingga gangguan pada organ tersebut dapat berhubungan dengan peningkatan tekanan darah.

Selain penyakit ginjal, kondisi medis tertentu dan beberapa obat juga dapat menyebabkan atau memperburuk tekanan darah tinggi. Karena itu, hipertensi yang muncul secara tidak biasa atau sulit dikendalikan perlu dievaluasi oleh tenaga kesehatan.

Jenis Penyebab Hipertensi Berdasarkan Asalnya

Secara umum, hipertensi dapat dibedakan berdasarkan penyebabnya menjadi dua kelompok.

Hipertensi Primer atau Esensial

Hipertensi primer merupakan jenis yang paling banyak ditemukan. Kementerian Kesehatan menyebut sekitar 90–95% kasus hipertensi didominasi oleh hipertensi esensial.

Pada kondisi ini, tidak terdapat satu penyebab spesifik yang dapat ditunjuk sebagai sumber masalah. Tekanan darah dapat meningkat akibat gabungan berbagai faktor, seperti:

  • Faktor genetik.
  • Pertambahan usia.
  • Pola makan tinggi garam.
  • Kurang aktivitas fisik.
  • Berat badan berlebih.
  • Merokok.
  • Konsumsi alkohol.
  • Faktor lingkungan dan gaya hidup.

Karena melibatkan banyak faktor, pencegahan hipertensi primer juga perlu dilakukan secara menyeluruh.

Hipertensi Sekunder

Berbeda dengan hipertensi primer, hipertensi sekunder berkaitan dengan kondisi atau penyebab tertentu. Misalnya penyakit ginjal, gangguan hormonal, atau penggunaan obat tertentu.

Halaman:
1 2